Pejuang dari batas terendah
Aku adalah seorang pemimpi yg berharap suatu hari aku mendapatkan yang namanya sukses, mandiri & yang utama bisa menjadikan orang tua ku raja. Aku orang yg terlahir dari keluarga yg terbilang biasa jauh dari cukup, pahit pedihnya kehidupan sering aku temui dalam hadup, bahkan sedari kecil aku sudah dituntut untuk berpikir keras mengenai materi. Ooohh iya ayahku adalah seorang pekerja buruh lepas yg sangat pekerja keras dan sangat bertanggung jawab maka dari itu aku enggan berbagi duka yg aku alami dengan beliau.
Saat aku duduk dibangku sekolah dasar keluarga ku terhimpit masalah ekonomi, berat rasa dimasa sulit itu sampai aku harus tersisih dari teman-teman ku karena orang tua ku tak bisa membayar kurus bahasa Inggris saat itu, sebenarnya ayah selalu memprioritaskan mengenai sekolah tapi aku tak cukup tega bilang ayahku klo aku dikeluarkan dari tempat kursus karena masalah administrasi yg tak terselesaikan (just info tempat kursus itu adalah milik sodara ayahku). Hari demi hari aku jalani walopun hidup serba keterbatasan, untuk makan sehari-hari pun ayah harus berhutang ke warung milik tetangga, banyak sodara ataupun tetangga yang mencibir ayahku. Kadang aku sakit lihat perlakuan mereka terhadap ayah ku, merendahkan sangat dipandang sebelah mata, tapi saat itu aku tak bisa apa-apa hanya berharap roda hidup akan berputar.
Saat aku duduk dibangku SMP aku satu-satunya yang masuk dikelas unggulan didaerah tempat tinggal ku, saat itu aku punya 3 sahabat dari mulai sekolah dasar. Dan saat itu terpisah dalam berbeda kelas. saat aku sekolah aku sering mendapatkan perlakuan kurang adil, dari mulai teman dikelas ataupun dikegiatan luar sekolah.
Dari 4 kita sahabatan ternyata dua tidak melanjutkan sekolah ke SMK, mereka memilih untuk bekerja, tapi ayahku lebih mementingkan sekolah walopun saat itu ekonomi kita belum membaik. Karena aku dan sahabatku pisah kelas, hubungan kami jadi renggang, aku punya sahabat baru dan dia pun begitu. Ada yg tak aku suka temen aku berubah drastis setelah masuk SMK dan bertemu teman barunya.
Setelah keluar sekolah SMK aku ikut tinggal dengan paman ku, karena disana beliau tinggal dikota, ooohh iya rumah ku tergolong kampung dan jauh dari peradaban kota. Saat aku mulai bekerja disana aku harus bekerja shift pagi, siang dan malam. Yang sedikit males itu klo bekerja siang pulang malam aku harus berjalan kaki sangat jauh melewati statsiun, Pinggir irigasi dan menyusuri sawah, aku terkadang merasa sedih sakit saat orang lain pulang kerja jam 11 malam dijemput orang tuanya kakaknya tapi aku cukup tau diri keluarga ku jauh dan aku disana menumpang, tapi almarhum om ku baik, cuma istrinya kurang begitu welcome, pernah aku pulang kerja pagi lembur pulang tak ditawarin untuk makan padahal ibuku selalu kirim beras dari kampung. Sampai saatnya aku sudah gak betah disana, apalagi om ku sakit-sakitan keluar masuk rumah sakit, dan istrinya sering tak menyapa ketika dia pusing masalah keuangan.
Akhirnya aku kost dan hanya bertahan sebentar sampai akhirnya aku pulang kerumah, setelah ayahku punya sepeda motor untuk antar jemput aku ketitik bis jemputan, setelah aku resign dari tempat kerja itu aku kerja ditempat baru, sebuah perusahaan perakitan sepeda motor.
Wah, saat itu jadi suatu kebanggaan aku sampai akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja, satu-satunya keinginan aku saat itu aku bisa kuliah. Aku bekerja disana tidak lama hanya 2 tahun karena kesulitan aku mengejar kelas karena kerja sistem shift pagi dan sore.. masuk pagi aku sering terlambat masuk sampai ada dosen yg bicara dikelas takala aku kesiangan si xxx (dia sebut namaku) masuk kuliah jam 17.15 mau jadi sarjana. 😔😔😔
So.. aku harus mencari pekerjaan baru agar aku bisa tetap bertahan untuk tetep kuliah, akhirnya aku dapat pekerjaan di sebuah rumah sakit swasta dikota yg sama dengan kampus ku, gajinya pas sangat-sangat pas kadang tak cukup, tp waktu untuk kuliah sesuai. Sampai lulus menyandang gelar sarjana aku disana, sampai akhirnya aku resign karena atasan ku merasa tak suka sejak aku lulus dia sering jadikan aku sasaran kemarahan nya padahal aku tak salah (ternyata dia itu D3).
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar